Syarah Hikmah ke- 1
مِنْ عَلاَ مَا تِ الإِعْتِمَادْ عَلَى الْعَمَلِ, نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ
“Di antara tanda-tanda bahwa seseorang bertumpu pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan (terhadap rahmat anugrah Allah) ketika terjadi padanya kesalahan atau dosa”
Ketahuilah wahai Salik (perambah jalan kebenaran spiritual dengan berbagai riyadhoh), bahwasanya wajib bagi orang mukmin yang shadiq (istilah shadiq diberikan kepada seseorang yang ahli dalam melakukan kebenaran atau selalu dikaitkan dengan kebenaran) untuk berpegang teguh pada Allah Swt. semata. Yakni, jangan sekali-kali kamu bersandar diri pada selain Allah. Ilmu dan amal ibadahmu itu tidak bisa dijadikan pengharapan. Jangan pernah sekali-kali membuat keyakinan di dalam hatimu bahwa amal ibadahmu bisa memasukkanmu ke dalam surga, menyelamatkan dari api neraka, serta menjadikan wushul (sampai) kepada Allah. Hal itu tidak bisa , benar-benar tidak bisa.
Apakah kamu tidak mengetahui kisah Pendeta Bala’am bin Ba’ura dan Qarun yang keduanya adalah ahli ibadah? Qarun merupakan ulama Bani Israil, tetapi saat menghadapi ajal keduanya mati dalam keadaan kafir. Apakah kamu tidak mengetahui kisah Sayyidah Aisyah binti Muzahim, walaupun beliau menjadi istri Firaun, beliau adalah kekasih Allah Swt. bahkan beliau akan menjadi
istri Rasulullah Saw. besok di surga.
Akhirnya baik iman maupun kufur, masuk surga atau masuk neraka, itu semua adalah berkat fadhal (karunia) dan keadilan dari Allah Swt. semata. Sama sekali bukan dikarenakan ketaatan dan kemaksiatan setiap Insan. Yang benar adalah, ketaatan dan kemaksiatan itu menjadi sebab dan tanda bagi orang yang akan masuk surga atau masuk neraka, tetapi kesemuanya tidak dapat memberi akibat atau dampak.
Wahai murid (orang yang menghendaki sampai kepada Allah Swt), ambillah ibarat dari kisah putra Nabi Nuh a.s. dan kisah istri Nabi Luth a.s. yang keduanya mati dalam keadaan kafir. Tegasnya, orang tua tidak bisa menjamin anaknya, suami tidak bisa menolong istrinya dari siksa Allah Swt. walaupun keduanya adalah seorang Nabi. Bahkan, wajib baginya berpegang teguh kepada Allah Swt., bukan ke yang lain.
Saat kamu, hai orang yang berakal, sudah mengetahuinya, maka bersandarlah kamu pada Allah Swt. semata dalam segala keadaan, bahkan dalam urusan rezeki sekali pun. Jangan sekali-kali hatimu merasa ada sesuatu selain Dia yang dapat memberi manfaat atau memberi bahaya kepadamu, dan tentu ini tidak akan terjadi.
Dari sini, Syekh Ibnu Atha’illah menyebutkan tanda-tanda orang yang menyandarkan diri kepada selain Allah Swt. melalui perkataan beliau berikut ini :
مِنْ عَلاَ مَا تِ الإِعْتِمَادْ عَلَى الْعَمَلِ, نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ
“Di antara tanda-tanda bahwa seseorang bertumpu pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan (terhadap rahmat anugerah Allah) ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa”
Di antara tanda-tanda bahwa seseorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan terhadap rahmat anugerah Allah ketika terjadi padanya suatu kessalahan atau dosa.
Misalnya, maksiat atau lupa dari mengingat Allah Swt., yaitu ketika hati seseorang berkata setelah melakukan kesalahan, “Aku pasti akan masuk neraka sebab dosaku ini, dan Allah tidak akan mengampuni dosaku ini”. Akan tetapi, seharusnya orang yang jatuh dalam sebuah dosa harus mendekatkan dirinya kepada Allah Swt. dan merasa bahwa ia melakukan dosa itu karena sifat Qahhar (Maha Memaksa) Allah Swt.. Takutlah kamu jika Allah Swt. menempatanmu dalam melakukan maksiat dan selalu berharaplah pada sifat Maha Pengampun Allah Swt. berikut anugerahnya.
Demikian halnya, wajib bagi orang yang memiliki sifat (barangkali yang dimaksut adalah hal dalam istilah kaum sufi), jangan sekali-kali kamu merasa bahwa kamu ahli berbuat ketaatan dan jangan sekali-kali kamu merasa ketaatanmu bisa mendekatkan pada Allah Swt. atau bisa memasukkanmu ke dalam surga. Akan tetapi, merasalah bahwa ketaatan yang kamu perbuat itu lantaran anugerah Allah Swt. kepadamu dan kamu sudah dikeluaran dari perbuatan maksiat dan kembali pada Allah Swt.. Jika tidak ada anugerah Allah, niscaya kamu tidak akan mau berbuat ketaatan, dan sesungguhnya anugerah Allah yang diberikan pada kamu itu karena fadhal Allah semata, bukan karena amal yang menyertaimu.
Jika sudah begitu, maka tidak patut bagimu untuk memohon pahala kepada Allah atas amal perbuatan yang kamu lakukan, karena kamu bukanlah orang yang ahli dalam amal-ibadah. Akan tetapi, Allah-lah yang memberi amal pada kamu dan hendaklah kamu bersyukur atas pemberian yang dianugerahkan oleh Allah kepadamu. Banyak dari kamu yang tidak dijadikan orang yang ahli berbuat maksiat karena tanda orang yang dikasihi Allah ialah diberi ketaatan dan iman, dan tanda murkanya Allah adalah diberikanya maksiat dan kufur.
(Sumber: Syarah Al-Hikam KH. Sholeh Darat, 2016, Penerbit Sahifa : Depok)
Sabtu, 10 Desember 2016
Syarh Al-Hikam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar