• Temukan

    Minggu, 14 Juni 2020

    Adil dan Kebajikan


    Adil dan Kebajikan

    Zaman sekarang orang-orang makin terlihat karib dengan kata adil dan kebajikan, bahkan mereka sungguh telah dekat-konon-sehingga mereka tidak bisa lagi melihat keadilan dan kebajikan. Wajar saja, melihat itu kan membutuhkan jarak agar objek dapat terlihat. Atau muingkin orang-orang sekarang sudah tak butuh melihat lagi, sebab mereka sudah naik level dengan mengandalkan perasaan. Ahh, tapi sepertinya orang-orang sekarang ini makin tak berperasaan. Sudah banyak kejadian yang menggambarkan betapa kita sekarang ini sudah kehilangan rasa, baik itu rasa persaudaraan, ewu-pekewuh, kemanusiaan bahkan rasa malu yang padahal katanya “Malu itu Sebagian dari Iman”.

                  Allah SWT. berfirman dalam QS. An-Nahl: 90 yang artinya, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu supaya kamu ingat”. Allah secara terang-terangan menyuruh kita untuk berlaku adil dan bijaksana, menyuruh kita untuk berada di posisi tengah-tengah baik dalam masalah keyakinan maupun pendapat yang berkaitan dengan usaha, antara perkara amal ibadah wajib juga antara perkara akhlak. Seperti halnya kita bersikap dermawan, yakni sifat antara kikir dengan boros.

                    Sedangkan kebajikan, ialah taat. Kita sebagai hamba Allah diwajibkan untuk taat kepadaNya, melaksanakan ketaatan dengan kuantitas dan kualitas yang baik. Dalam setiap amal perbuatan yang kita lakukan baik yang terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi, Allah SWt Mengetahui segalanya tanpa penutup apapun. Sebagaimana sabda Nabi, “Hendaknya kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatNya. Karena sekalipun kamu tidak melihatNya, sungguh Dia melihat kamu. Yang demikian itulah Ihsan.” Ibadah mencakup semua amal perbuatan baik muslim yang didasari niat baik, menjauhi maksiat jika didasari ketaatan kepada Allah akan berbuah pahala. Ada banyak bentuk ketaatan kepada Allah dari hal-hal yang nampaknya ringan sampai yang terkesan berat. Namun, jika semua itu kita lakukan dengan Lillahita’ala, semua yang berat sekalipun akan terasa ringan.

                    Di dalam Kitab Durratun Nasihin diterangkan bahwa Nabi pernah bersabda yang artinya:
    “Penghuni surga itu ada tiga”.
    Pertama, penguasa, yakni orang yang memegang tampuk pemerintahan dan kekuasaan, yak tidak berat sebelah, yakni adil, yang bersedekah, yakni berbuat kebajikan kepada orang-orang fakir, yang mendapat taufik, yakni orang yang dikaruniai ketaatan kepada Allah dan berlaku adil dalam memerintah.
    Kedua, orang yang pengasih lagi halus perkataannya, yakni orang yang didalam hatinya ada perasaan lembut, belas kasih dan rahmat kepada setiap orang yang ada hubungan kekeluargaan dengannya dan setiap muslim, yakni terhadap sanak kerabat dan orang lain.
    Ketiga, orang yang saleh, yang memelihara dirinya, yakni yang mencegah dirinya dari melakukan hal-hal yang tidak halal dan tidak pantas, yang mempunya keluarga besar, namun ia tidak terpengaruh oleh cintanya kepada keluarga untuk mengambil harta yang haram. Bahkan ia lebih memilih Cinta kepada Allah dari pada cinta kepada keluarga.

    Dengan demikian, kita dapat kembali tersadar bahwa kita hidup di dunia hanya sebentar,ibarat kata kita hanya numpang minum, minumnya juga tidak pake bayar. Gimana mau bayar, kita keluar dari Rahim ibu dan masuk ke alam dunia ini tanpa membawa apa-apa, kita hanya bermodalkan tangisan merengek-rengek ketika lapar, sakit, takut dan pulas saat semua kebutuhan kita terpenuhi. Kini baru saya tahu bahwa kita tak pernah benar-benar dewasa, kita masih sama seperti awal kelahiran kita di dunia, tak pernah jauh berbeda. ahh

    اَللّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ فَإِنَّهٌ لاَيَهْدِىْ لِأَحْسَنِهَ إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّأهَا فَإِنَّهُ لاَيَصْرِفُ سَيِّأَهَا إِلاَّأَنْتَ.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar