Adil dan Kebajikan
Zaman sekarang orang-orang makin
terlihat karib dengan kata adil dan kebajikan, bahkan mereka sungguh telah dekat-konon-sehingga
mereka tidak bisa lagi melihat keadilan dan kebajikan. Wajar saja, melihat itu
kan membutuhkan jarak agar objek dapat terlihat. Atau muingkin orang-orang sekarang
sudah tak butuh melihat lagi, sebab mereka sudah naik level dengan mengandalkan
perasaan. Ahh, tapi sepertinya orang-orang sekarang ini makin tak berperasaan. Sudah
banyak kejadian yang menggambarkan betapa kita sekarang ini sudah kehilangan
rasa, baik itu rasa persaudaraan, ewu-pekewuh, kemanusiaan bahkan rasa
malu yang padahal katanya “Malu itu Sebagian dari Iman”.
Allah SWT.
berfirman dalam QS. An-Nahl: 90 yang artinya, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah
melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepada kamu supaya kamu ingat”. Allah secara terang-terangan menyuruh
kita untuk berlaku adil dan bijaksana, menyuruh kita untuk berada di posisi
tengah-tengah baik dalam masalah keyakinan maupun pendapat yang berkaitan
dengan usaha, antara perkara amal ibadah wajib juga antara perkara akhlak. Seperti
halnya kita bersikap dermawan, yakni sifat antara kikir dengan boros.
Sedangkan
kebajikan, ialah taat. Kita sebagai hamba Allah diwajibkan untuk taat
kepadaNya, melaksanakan ketaatan dengan kuantitas dan kualitas yang baik. Dalam
setiap amal perbuatan yang kita lakukan baik yang terang-terangan maupun secara
sembunyi-sembunyi, Allah SWt Mengetahui segalanya tanpa penutup apapun. Sebagaimana
sabda Nabi, “Hendaknya kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatNya. Karena
sekalipun kamu tidak melihatNya, sungguh Dia melihat kamu. Yang demikian itulah
Ihsan.” Ibadah mencakup semua amal perbuatan baik muslim yang didasari niat
baik, menjauhi maksiat jika didasari ketaatan kepada Allah akan berbuah pahala.
Ada banyak bentuk ketaatan kepada Allah dari hal-hal yang nampaknya ringan
sampai yang terkesan berat. Namun, jika semua itu kita lakukan dengan Lillahita’ala,
semua yang berat sekalipun akan terasa ringan.
Di dalam
Kitab Durratun Nasihin diterangkan bahwa Nabi pernah bersabda yang artinya:
“Penghuni surga itu ada tiga”.
Pertama, penguasa, yakni orang yang memegang tampuk
pemerintahan dan kekuasaan, yak tidak berat sebelah, yakni adil, yang
bersedekah, yakni berbuat kebajikan kepada orang-orang fakir, yang mendapat
taufik, yakni orang yang dikaruniai ketaatan kepada Allah dan berlaku adil
dalam memerintah.
Kedua, orang yang pengasih lagi halus perkataannya, yakni
orang yang didalam hatinya ada perasaan lembut, belas kasih dan rahmat kepada
setiap orang yang ada hubungan kekeluargaan dengannya dan setiap muslim, yakni
terhadap sanak kerabat dan orang lain.
Ketiga, orang yang saleh, yang memelihara dirinya, yakni yang
mencegah dirinya dari melakukan hal-hal yang tidak halal dan tidak pantas, yang
mempunya keluarga besar, namun ia tidak terpengaruh oleh cintanya kepada
keluarga untuk mengambil harta yang haram. Bahkan ia lebih memilih Cinta kepada
Allah dari pada cinta kepada keluarga.
Dengan demikian, kita dapat kembali tersadar bahwa kita
hidup di dunia hanya sebentar,ibarat kata kita hanya numpang minum, minumnya juga
tidak pake bayar. Gimana mau bayar, kita keluar dari Rahim ibu dan masuk ke
alam dunia ini tanpa membawa apa-apa, kita hanya bermodalkan tangisan
merengek-rengek ketika lapar, sakit, takut dan pulas saat semua kebutuhan kita
terpenuhi. Kini baru saya tahu bahwa kita tak pernah benar-benar dewasa, kita
masih sama seperti awal kelahiran kita di dunia, tak pernah jauh berbeda. ahh
اَللّهُمَّ
اهْدِنِي لِأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ فَإِنَّهٌ لاَيَهْدِىْ لِأَحْسَنِهَ إِلاَّ
أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّأهَا فَإِنَّهُ لاَيَصْرِفُ سَيِّأَهَا إِلاَّأَنْتَ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar