Seiring kemajuan zaman, harusnya semakin maju pula tingkat
pengetahuan, semakin maju pola pemikiran, manusia semakin purna kontrol atas
diri mereka serta purna dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Dulu nenek
moyang kita menjalani kesehariannya hanya mengandalkan insting dan pengalaman,
kebutuhan mereka pun bisa dibilang hanya untuk kepentingan konsumsi, asal sudah
makan maka tenang. Bahkan walaupun orientasi mereka sebatas konsumsi, mereka
tetap hidup dengan norma kesopanan yang bisa dibilang lebih purna dibanding
moral manusia zaman sekarang yang katanya manusia berpendidikan. Kita mungkin
memang berpendidikan, namun apakah kita yakin bahwa kita sudah terdidik, kalau pun
sudah, apakah kita sudah terdidik dengan baik. Ahh, rasa-rasanya-kalau saya-ini jauh dari
kata terdidik, entah anda yang nun jauh di langit sana. Toh nenek moyang kita
tak pernah mengenyam pendidikan formal, namun memilliki moral yang jauh lebih
unggul.
Namun bukan berarti pendidikan
tidak penting, di era sekarang ini-sebenarnya di semua era-semua hal sangat penting, masing-masing
memiliki perannya masing-masing. Dari yang tampak remeh sampai yang berat
sekalipun, hakikatnya memiliki bobot kepentingan yang sama. Loh, kenapa tidak? Semua
yang terjadi di dunia ini kan berjalan atas kehendak Allah, dan pastilah
kehendak Allah itu penting. Semua yang ada di dunia ini berjalan atas
Sunnatullah, terjadi dengan kehendak Allah. Kita ini hanya memainkan peran yang
diberikanNya, maka jadilah pemeran yang baik, yang memerankan peran dengan seluruh
potensi yang telah diberikanNya demi maksimalnya peran. Akan tetapi ingat, peran
utama kita di bumi adalah sebagai khalifah, sebagai pemberdaya bumi. Pemberdaya
ya, bukan mengeksploitasi.
Sekarang ini banyak orang yang berlomba-lomba
merasa, orang-orang kian selfies. Merasa benar, merasa baik, merasa tampan cantik
kaya pintar blablabla. Namun jarang dan bahkan hampir sulit menemukan orang
yang merasa salah-justru yang lebih sering ditemukan adalah orang yang
disalahkan, untuk menemukan orang-orang seperti ini mungkin butuh waktu puluhan
tahun, berbeda dengan menemukan orang yang merasa benar cukup memerlukan waktu
sepersekian detik saja.
Ada lagi yang lebih menggelikan selain orang-orang yang merasa benar, yakni mereka yang sibuk mengucurkan keringat atas
nama organisasi namun sebenarnya mereka memiliki maksud tersendiri dalam
berorganisasi. Iya, organisasi hanya sebatas wasilah bagi mereka dalam
mencapai tujuan mereka. Di mulut mereka terdengar lantang kalimat memperjuangkan
visi misi organisasi, namun visi misi pribadi berkuasa dalam remang-remang
hati.
Iya saya tahu memang tidak semua
demikian, masih banyak yang memang sungguh-sungguh memperjuangkan organisasi. Namun
seperti saya bilang tadi, sulit menemukan yang semacam ini. Ini sungguh
pekerjaan berat, lebih berat dari usaha mewujudkan suatu visi misi. Semoga kita tak hanya sekedar berkembang, tak sekedar berkembang kuantitas saja namun kualitasnya juga jangan terlupa. jangan sampai kita menjadi bantet, keras, susah untuk dimanfaatkan, kalaupun bisa bermanfaat paling hanya untuk lempar-lemparan kemarahan. Ahh, jangan sampai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar