• Temukan

    Selasa, 16 Juni 2020

    Berkembang Susut


    Seiring  kemajuan zaman, harusnya semakin maju pula tingkat pengetahuan, semakin maju pola pemikiran, manusia semakin purna kontrol atas diri mereka serta purna dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Dulu nenek moyang kita menjalani kesehariannya hanya mengandalkan insting dan pengalaman, kebutuhan mereka pun bisa dibilang hanya untuk kepentingan konsumsi, asal sudah makan maka tenang. Bahkan walaupun orientasi mereka sebatas konsumsi, mereka tetap hidup dengan norma kesopanan yang bisa dibilang lebih purna dibanding moral manusia zaman sekarang yang katanya manusia berpendidikan. Kita mungkin memang berpendidikan, namun apakah kita yakin bahwa kita sudah terdidik, kalau pun sudah, apakah kita sudah terdidik dengan baik. Ahh, rasa-rasanya-kalau saya-ini jauh dari kata terdidik, entah anda yang nun jauh di langit sana. Toh nenek moyang kita tak pernah mengenyam pendidikan formal, namun memilliki moral yang jauh lebih unggul.

    Namun bukan berarti pendidikan tidak penting, di era sekarang ini-sebenarnya di semua era-semua hal sangat penting, masing-masing memiliki perannya masing-masing. Dari yang tampak remeh sampai yang berat sekalipun, hakikatnya memiliki bobot kepentingan yang sama. Loh, kenapa tidak? Semua yang terjadi di dunia ini kan berjalan atas kehendak Allah, dan pastilah kehendak Allah itu penting. Semua yang ada di dunia ini berjalan atas Sunnatullah, terjadi dengan kehendak Allah. Kita ini hanya memainkan peran yang diberikanNya, maka jadilah pemeran yang baik, yang memerankan peran dengan seluruh potensi yang telah diberikanNya demi maksimalnya peran. Akan tetapi ingat, peran utama kita di bumi adalah sebagai khalifah, sebagai pemberdaya bumi. Pemberdaya ya, bukan mengeksploitasi.

     Sekarang ini banyak orang yang berlomba-lomba merasa, orang-orang kian selfies. Merasa benar, merasa baik, merasa tampan cantik kaya pintar blablabla. Namun jarang dan bahkan hampir sulit menemukan orang yang merasa salah-justru yang lebih sering ditemukan adalah orang yang disalahkan, untuk menemukan orang-orang seperti ini mungkin butuh waktu puluhan tahun, berbeda dengan menemukan orang yang merasa benar cukup memerlukan waktu sepersekian detik saja.

    Ada lagi yang lebih menggelikan selain orang-orang yang merasa benar, yakni mereka yang sibuk mengucurkan keringat atas nama organisasi namun sebenarnya mereka memiliki maksud tersendiri dalam berorganisasi. Iya, organisasi hanya sebatas wasilah bagi mereka dalam mencapai tujuan mereka. Di mulut mereka terdengar lantang kalimat memperjuangkan visi misi organisasi, namun visi misi pribadi berkuasa dalam remang-remang hati.

    Iya saya tahu memang tidak semua demikian, masih banyak yang memang sungguh-sungguh memperjuangkan organisasi. Namun seperti saya bilang tadi, sulit menemukan yang semacam ini. Ini sungguh pekerjaan berat, lebih berat dari usaha mewujudkan suatu visi misi. Semoga kita tak hanya sekedar berkembang, tak sekedar berkembang kuantitas saja namun kualitasnya juga jangan terlupa. jangan sampai kita menjadi bantet, keras, susah untuk dimanfaatkan, kalaupun bisa bermanfaat paling hanya untuk lempar-lemparan kemarahan. Ahh, jangan sampai.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar