• Temukan

    Sabtu, 03 Desember 2016

    KIAI HAJI SHOLEH DARAT



    Riwayat Keluarga Kiai Sholeh

                Nama lengkapnya adalah Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani, atau lebih dikenal dengan sebutan kiai Sholeh Darat. Ada dua alasan kenapa dipanggil “ Kiai Sholeh Darat “. Pertama,sesuai dengan akhir surat yang ia tujukan kepada Penghulu Tafsir Anom, penghulu Keraton Surakarta, yaitu: “ Al-Haqir Muhammad Sholeh Darat “ dan juga menulis nama “ Muhammad Salih ibn ‘Umar Darat Semarang “ ketika menyebut nama-ama gurunya dalam kitab al-Mursyid al-Wajiz. Kedua, sebutan “Darat” di belakang namanya,karena ia tinggal di suatu kawasan bernama “Darat”, yaitu suatu kawasan dekat pantai utara Kota Semarang tempata mendarat orang-orang yang datang dari luar Jawa. Adanya laqab (penambahan) ini, sudah menjadi tradisi atau ciri khas dari orang-orang yang terkenal di masyarakatnya pada masa itu. Kini, di kawasan Darat, Semarang Utara, didirikan Masjid Sholeh Darat yang merupakan cikal bakal pesantren Kiai Sholeh Darat (penulis mengutip dari buku karya Ghazali Munir ,Warisan Intelektual Jawa dalam Pemikiran Kalam Muhammad Shalih Darat al-Samarani, 2008, Walisongo Press,Semarang)
                Kiai Sholeh Darat dilahirkan di Desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong,Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar tahun 1820 M. Dalam riwayat lain, Sholeh dilahirkan di Bangsri (penulis mengutip dari buku karya Matuki HS dan M. Isham El-Shaha, Intelektualisme Pesantren, 2003, Diva Pustaka, Jakarta, hal. 145). Semasa kecil ia dipanggil Sholeh. Sholeh lahir dan dibesarkan di dalam keluarga alim yang cinta tanah air. Ayahnya adalah Kiai Umar yang merupakan tokoh ulama yang cukup terpandang dan disegani di kawasan pantai utara Jawa. Kiai Umar juga seorang pejuang perang Jawa (1825-1830), sekaligus orang kepercayaan Pangeran Diponegoro. Kiai Umar beserta kawan, kolega, dan santri-santrinya berjuang gigih mempertahankan kehormatan tanah air dari jajahan Belanda. Sayangnya data terkait ibunda Sholeh Darat tidak diketemukan riwayat dan referensinya.

    (Sumber: Syarah Al-Hikam,KH. Sholeh Darat,2016,Sahifa;Depok)

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar