• Temukan

    Jumat, 16 Desember 2016

    Syarah Hikmah ke- 2

    Syarah Hikmah ke- 2

    إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدُ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي الأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ وَ إِرَادَتُكَ الأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ انْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَةِ
    “Keinginanmu untuk tajrid (melulu beribadah tanpa berusaha mencari dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada asbab (harus berusaha untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari), termasuk syahwat nafsu yang samar. Sebaliknya, keinginanmu  untuk asbab (berusaha) padahal Allah telah menempatkan dirimu pada tajrid (melulu beribadah tanpa berusaha), maka demikian itu berarti menurun dari semangat yang tinggi”
        Hendaknya orang yang sudah mencapai makrifat Allah mau menerima apapun yang ditentukan oleh Allah baik (tingkatan) usaha atau lainnya.
        Syekh Ibnu ‘Atha’illah Al-Iskandary berkata :


    إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدُ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي الأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ

    “Keinginanmu untuk tajrid (melulu beribadah tanpa berusaha mencari dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada asbab (harus berusaha untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari), termasuk syahwat nafsu yang samar"

    Keinginanmu untuk meninggalkan kasab (usaha) mencari ridha Allah, padahal Allah telah menempatkanmu pada maqam kasab itu termasuk syahwat nafsu yang samar.
    Boleh jadi, keinginanmu untuk meninggalkan kasab (usaha), padahal Allah telah menempatkanmu pada (maqam) kasab itu adalah keinginan nafsu agar engkau dianggap masyarakat sebagai orang yang zuhud. Dengan demikian, engkau termasuk orang yang tidak mempunyai tata-krama kepada Allah Swt. karena tidak mau menerima apa yang sudah ditentukan oleh Allah untukmu. Engkau menjadi orang yang melampaui kehendak Allah. Adapun tanda bahwa engkau ditempatkan pada maqam kasab itu adalah dengan wujud selamatnya agamamu. Engkau tetap berusaha, tetap melakukan ibadah, sholat berjama’ah, mengaji, memperbanyak ketaatan, serta bekerja memenuhi nafkah keluarga.
    Berubahnya keinginanmu untuk meninggalkan kasab itu termasuk bujuk rayu iblis. Maka sesungguhnya iblis terkadang berucap kepadamu “Jika engkau meninggalkan kasab niscaya engkau menjadi golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah, menjadi golongan orang-orang yang bertawakal kepada Allah, bisa dekat dengan Allah, dan semakin taat kepada Allah. Jika engkau mau menurutinya maka setelah meninggalkan kasab engkau akan dilanda kegalauan dalam imanmu, hilanglah ketauhidanmu, bersamdar diri pada makhluk sebab sempitnya rezekimu, dan selalu mengharapkan pemberian makhluk. Pada akhirnya, engkau yang asalnya menyembah Allah berbalik menjadi penyembah makhluk. Dengan begitu, hilanglah keinginanmu dan bergembiralah iblis.



    Syekh Ibnu ‘Atha’illah Al-Iskandary berkata:


    وَ إِرَادَتُكَ الأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ انْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَةِ

    “Sebaliknya, keinginanmu  untuk asbab (berusaha) padahal Allah telah menempatkan dirimu pada tajrid (melulu beribadah tanpa berusaha), maka demikian itu berarti menurun dari semangat yang tinggi”

    Keinginanmu untuk asbab (berusaha), padahal Allah sudah menempatkanmu untuk meninggalkan usaha itu bisa menurunkan dirimu dari semangat yang tinggi pada semangat yang lebih rendah. Karena setelah engkau mengharap hanya kepada Allah disertai dengan keyakinan iman, bahwa hanya Allahlah Dzat yang Maha Memberi Rezeki, maka engkau akan  kembali berharap kepada makhluk. Angan-anganmu akan menjadi hina.
        Alhasil, wajib bagi orang yang sudah makrifat Allah rela menerima apapun maqam (tempat) yang ditentukan oleh Allah dan menetapinya, hingga Allah memindahkanya pada maqam yang lain. Adapun tanda engkau ditempatkan pada maqam tajrid (melulu beribadah tanpa berusaha mencari dunia atau meninggalkan usaha) adalah mudahnya engkau mendapatkan penghidupan dari manapun datangnya rezeki tersebut. Dengan begitu, engkau tidak mengharap-harapkan pemberian makhluk, tidak tamak terhadap haknya makhluk, dan hati pun tetap tenang meskipun rezekinya sulit. Ketika hatimu telah terpatri hanya kepada Allah, istiqomah dalam beribadah, tidak meninggalkan ibadah karena sulitnya rezeki, jika engkau sudah mendapatkan hal-hal tadi pada dirimu maka, wajib bagimu untuk meninggalkan kasab (usaha) dan menerima anugerah yang diberikan Allah.
        Wallahu a’lam.

    Sumber :Sholeh Darat, Kiai Haji, Syarah Al-Hikam, 2016,Sahifa : Depok

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar